21 Maret 2013

Tawakkal Seorang Anak Yatim



Seorang masuk ke dalam masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (Nabawi) di luar waktu shalat jamaah. Ia mendapatkan seorang anak yang umurnya belum genap sepuluh tahun sedang khusyu’ shalat. Laki-laki itu menunggu anak tersebut menyelesaikan shalatnya. Dia menghampiri anak tersebut, mengucapkan salam lalu bertanya kepadanya, “Wahai anak, anak siapakah engkau?” Anak tsebut menundukkan kepala dan terlihat air mata membasahi pipinya. Sejurus kemudian dia mengangkat kepalanya sembari berkata, “Wahai paman, saya adalah anak yatim, ayah ibuku telah tiada”. Hati laki-laki itupun tersentuh, lalu berkata,

“Wahai anak, maukah engkau kujadikan sebagai anakku?”

Anak itu menjawab,
“Apakah jika aku kelaparan paman akan memberikan aku makan?”

“Ya, tentu.” Jawabnya

“Jika aku tak memiliki pakaian, apakah paman bersedia memberiku pakaian?”

”Ya.”

“Jika aku sakit, apakah paman bisa menyembuhkanku?”

“Itu bukan kuasaku wahai anakku.”

“Apakah jika aku mati paman bisa menghidupkan aku kembali?”

“Mustahil aku mampu melakukannya wahai anakku.”

“Jika demikian, tinggalkanlah aku wahai paman, karena aku mendapatkan firman Allah. “(Yaitu Allah) yang telah menciptakan aku, Maka Dialah yang menunjuki aku, Dia yang memberi makan dan minum kepadaku. Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku. Dan yang akan mematikan aku, kemudian akan meenghidupkan aku (kembali). Dan yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.” (QS. Asy-Syu’araaa: 78-82)

Laki-laki itupun teriam dan meninggalkan anak itu, sementara anak tiu bergumam “aku beriman kepada Allah, dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.”

(al-Atqiya’ al-Akhfiya’ hal. 98, Syaikh Sa’id Abdul Azhiem)

0 komentar:

Posting Komentar