Salah satu
bentuk penyimpangan manhaj dakwah yang muncul di tengah umat pada masa kini
adalah seruan dan gerakan untuk memprioritaskan penegakan khilafah atau daulah
islamiyah di atas dakwah kepada pemurnian akidah dan pelurusan tauhid.
Hal ini,
tentu saja keliru, sebab tujuan pokok dakwah para nabi dan rasul adalah untuk
menegakkan tauhid di tengah umat manusia, bukan kekuasaan. Allah ta’ala berfirman
(yang artinya), “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul
yang mengajak: Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36)
Tujuan
Dakwah; Akidah atau Daulah?
Semata-mata
tegaknya sebuah pemerintahan Islam tidak bisa memperbaiki akidah umat manusia.
Realita adalah sebaik-baik bukti atasnya. Di sana ada sebagian negara pada masa
kini yang membanggakan diri tegak sebagai negara Islam. Akan tetapi ternyata
akidah para penduduk negeri tersebut adalah akidah pemujaan berhala yang sarat
dengan khurafat dan dongeng belaka. Hal itu disebabkan mereka telah menyelisihi
petunjuk para nabi dan rasul dalam berdakwah menuju Allah (lihat asy-Syirk
fil Qadim wal Hadits [1/80] oleh Abu Bakr Muhammad
Zakariya. Cet. Maktabah ar-Rusyd, 1422 H)
Syaikh Dr.
Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, “Akidah
tauhid ini merupakan asas agama. Semua perintah dan larangan, segala bentuk
ibadah dan ketaatan, semuanya harus dilandasi dengan akidah tauhid. Tauhid
inilah yang menjadi kandungan dari syahadat laa ilaha illallah wa anna
Muhammadar rasulullah. Dua kalimat syahadat yang merupakan rukun Islam yang
pertama. Maka, tidaklah sah suatu amal atau ibadah apapun, tidaklah ada orang
yang bisa selamat dari neraka dan bisa masuk surga, kecuali apabila dia
mewujudkan tauhid ini dan meluruskan akidahnya.” (lihat Ia’nat
al-Mustafid bi Syarh Kitab at-Tauhid [1/17] cet. Mu’assasah
ar-Risalah)
Imam Ahli Hadits abad ini Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullahmenjelaskan,
“Nuh -‘alaihis salam- telah menetap di tengah-tengah kaumnya selama
seribu tahun kurang lima puluh (baca: 950 tahun). Beliau mencurahkan waktunya
dan sebagian besar perhatiannya untuk berdakwah kepada tauhid. Meskipun
demikian, ternyata kaumnya justru berpaling dari ajakannya. Sebagaimana yang
diterangkan Allah ‘azza wa jalla di dalamMuhkam at-Tanzil (baca:
al-Qur’an) dalam firman-Nya (yang artinya), “Dan mereka -kaum Nuh- berkata: Janganlah
kalian tinggalkan sesembahan-sesembahan kalian; jangan tinggalkan Wadd, Suwa’,
Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.” (QS. Nuh: 23). Maka hal ini menunjukkan dengan
sangat pasti dan jelas bahwasanya perkara terpenting yang semestinya selalu
diperhatikan oleh para da’i yang mengajak kepada Islam yang benar adalah dakwah
kepada tauhid. Itulah makna yang terkandung dalam firman Allah tabaraka
wa ta’ala (yang artinya), “Maka ketahuilah, bahwa tiada sesembahan
-yang benar- selain Allah.” (QS. Muhammad: 19). Demikianlah yang dipraktekkan
sendiri oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang
beliau ajarkan.” (lihat Ma’alim al-Manhaj as-Salafi fi at-Taghyir,
oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali hafizhahullah, hal. 42)
Syaikh Dr.
Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata,
“Sesungguhnya berhukum dengan syari’at, penegakan hudud, tegaknya daulah
islamiyah, menjauhi hal-hal yang diharamkan serta melakukan kewajiban-kewajiban
[syari'at] ini semua adalah hak-hak tauhid dan penyempurna atasnya. Sedangkan
ia merupakan cabang dari tauhid. Bagaimana mungkin lebih memperhatikan
cabangnya sementara pokoknya justru diabaikan?” (lihat dalam kata pengantar
beliau terhadap kitab Manhaj al-Anbiya’ fi ad-Da’wah ila Allah, fiihil
Hikmah wal ‘Aql oleh Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah hal.
11 Maktabah al-Ghuroba’ al-Atsariyah, cet. ke-2 tahun 1414 H)
Imam Ibnu
Abil ‘Izz al-Hanafi rahimahullah mengatakan, “al-Qur’an berisi
pemberitaan tentang Allah, nama-nama-Nya, dan sifat-sifat-Nya. Inilah yang
disebut dengan istilah tauhid ilmu dan pemberitaan. Selain itu al-Qur’an juga
berisi seruan untuk beribadah hanya kepada-Nya yang tiada sekutu bagi-Nya serta
ajakan untuk mencampakkan sesembahan selain-Nya. Itulah yang disebut dengan
istilah tauhid kehendak dan tuntutan. al-Qur’an itu juga berisi perintah dan
larangan serta kewajiban untuk patuh kepada-Nya. Itulah yang disebut dengan
hak-hak tauhid dan penyempurna atasnya. Selain itu, al-Qur’an juga berisi
berita tentang kemuliaan yang Allah berikan bagi orang yang mentauhidkan-Nya,
apa yang Allah lakukan kepada mereka ketika masih hidup di dunia, dan kemuliaan
yang dianugerahkan untuk mereka di akhirat. Itulah balasan atas tauhid yang dia
miliki. Di sisi yang lain, al-Qur’an juga berisi pemberitaan mengenai keadaan
para pelaku kesyirikan, tindakan apa yang dijatuhkan kepada mereka selama di
dunia, dan siksaan apa yang mereka alami di akhirat. Maka itu adalah hukuman
yang diberikan kepada orang yang keluar dari hukum tauhid. Ini menunjukkan
bahwa seluruh bagian al-Qur’an membicarakan tentang tauhid, hak-haknya, dan
balasan atasnya. Selain itu, al-Qur’an pun membeberkan tentang masalah syirik,
keadaan pelakunya, serta balasan bagi kejahatan mereka.” (lihatSyarh al-’Aqidah ath-Thahawiyah dengan takhrij al-Albani, hal.
89 cet. al-Maktab al-Islami)
Salah satu
alasan yang semakin memperjelas betapa pentingnya -bahkan wajib-
memprioritaskan dakwah kepada manusia untuk beribadah kepada Allah (baca:
dakwah tauhid) adalah karena inilah tujuan utama dakwah, yaitu untuk
mengentaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah menuju penghambaan
kepada Allah semata. Selain itu, tidaklah ada kerusakan dalam urusan dunia yang
dialami umat manusia melainkan sebab utamanya adalah kerusakan yang mereka
lakukan dalam hal ibadah mereka kepada Rabbjalla wa ‘ala (lihat Qawa’id
wa Dhawabith Fiqh ad-Da’wah ‘inda Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, hal. 249
oleh ‘Abid bin Abdullah ats-Tsubaiti penerbit Dar Ibnul Jauzi cet I, 1428 H)
Realitas
Yang Memprihatinkan dan Solusinya
Syaikh
Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata,
“Diantara perkara yang mengherankan adalah kebanyakan para penulis dalam bidang
ilmu tauhid dari kalangan belakangan (muta’akhirin) lebih memfokuskan
pembahasan mengenai tauhid rububiyah. Seolah-olah mereka sedang berbicara
dengan kaum yang mengingkari keberadaan Rabb [Allah] -walaupun mungkin ada
orang yang mengingkari Rabb [Sang Pencipta dan Penguasa alam semesta]- akan
tetapi bukankah betapa banyak umat Islam yang terjerumus ke dalam syirik
ibadah!!” (lihat al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid [1/8])
Tatkala para
ulama salaf sangat memperhatikan masalah tauhid ibadah, sesungguhnya mereka
melakukan itu semata-mata untuk mengikuti bagaimana Allah dan Rasul-Nyashallallahu
‘alaihi wa sallam memulai dakwahnya. Karena tauhid rububiyah adalah
perkara yang fitrah ada pada manusia, tidak ada yang mengingkarinya kecuali
orang yang telah tercabut fitrah darinya dan terbutakan mata hatinya… Adapun
salafiyun -dengan manhaj mereka ini- berbeda dengan kaum
Mutakallimin dari kalangan Asya’irah dan selainnya yang melalaikan masalah
tauhid ini dan tidak mencurahkan segenap upaya mereka untuk mengokohkan dan
mengajarkan hal itu kepada umat manusia. Bahkan, puncak perjuangan mereka
hanyalah berdalil untuk menetapkan keberadaan al-Khaliq, padahal ini semuanya
telah terpatri di dalam fitrah manusia yang suci. Sebagaimana sudah kami
isyaratkan baru saja. Oleh sebab itu untuk menetapkan hal itu tidaklah
memerlukan upaya yang rumit. Apalagi sampai menjadikan segala upaya hanya untuk
mencapai tujuan itu. Yang demikian itu terjadi kepada mereka disebabkan mereka
menganggap bahwa hakikat ilahiyah adalah kemampuan untuk mencipta. Oleh sebab
itu mereka berjuang untuk memberikan penjelasan kepada manusia bahwa Allah
sebagai satu-satunya pencipta. Kelalaian inilah yang pada akhirnya
menjerumuskan mereka ke dalam berbagai kotoran bid’ah dalam ibadah dan
sebagian praktek kemusyrikan, akibat mengesampingkan tauhid ibadah (lihat al-Manhaj
as-Salafi, Ta’rifuhu, Tarikhuhu, Majalatuhu, Qawa’iduhu wa Khasha’ishuhu,
hal. 134 oleh Dr. Mafrah bin Sulaiman al-Qusi, cet. Darul Fadhilah, 1422 H)
Oleh sebab
itu sudah semestinya -bahkan wajib- bagi para penimba ilmu dan para da’i untuk memperhatikan masalah ini dengan
baik dan menjadikan dakwah tauhid serta pengingkaran terhadap syirik dan
menepis syubhat sebagai prioritas utama dalam dakwah mereka. Inilah yang harus
dilakukan dan inilah dakwahnya para rasul ‘alaihimush sholatu was salam.
Sebab segala masalah lebih ringan dibanding syirik. Selama syirik masih
merajalela, bagaimana mungkin anda justru mengingkari masalah-masalah yang
lain! Kita harus memulai dengan pengingkaran terhadap syirik terlebih dulu dan
kita bebaskan kaum muslimin dari keyakinan-keyakinan jahiliyah ini. Kita
jelaskan kepada mereka dengan hujjah/dalil dan bukti yang jelas, dan apabila
memungkinkan dengan jihad fi sabilillah, hingga ajaran Islam
yang hanif ini kembali kepada kaum muslimin. Semuanya bisa berjuang sesuai
dengan kemampuan dan kapasitasnya masing-masing, di mana pun dan kapan pun.
Wajib bagi para da’i untuk tidak melalaikan masalah ini yang akan menyebabkan
mereka justru lebih memperhatikan masalah-masalah lain dan mengerahkan segenap
perjuangan dan usaha mereka untuk mengatasi hal itu. Janganlah mereka menutup
mata dari realita umat manusia yang terjerumus di dalam syirik dan penyembahan
kepada tempat-tempat keramat serta berkuasanya para penyebar ajaran khurafat
dan merebaknya ajaran sufi yang menjajah akal sehat manusia. Ini adalah perkara
yang tidak boleh didiamkan. Setiap dakwah yang tidak mengarah kepada pelarangan
dari kerusakan semacam itu adalah dakwah yang cacat, dakwah yang tidak baik,
atau dakwah yang tidak akan membuahkan hasil (lihat Syarh
Kitab Kasyfu asy-Syubuhat, hal. 24 oleh Syaikh Shalih bin Fauzan. Cet.
Ar-Risalah, 1422 H)
Kezaliman
Terbesar
Allah ta’ala berfirman
(yang artinya), “Sungguh Kami telah mengutus para utusan Kami dengan
keterangan-keterangan yang jelas dan Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan
neraca agar umat manusia menegakkan keadilan.” (QS. Al-Hadid: 25)
Ibnul Qayyim
berkata, “Allah subhanahu mengabarkan bahwasanya Dia telah
mengutus rasul-rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya supaya umat manusia
menegakkan timbangan (al-Qisth) yaitu keadilan. Diantara bentuk keadilan yang
paling agung adalah tauhid. Ia adalah pokok keadilan dan pilar penegaknya.
Adapun syirik adalah kezaliman yang sangat besar. Sehingga, syirik merupakan
tindak kezaliman yang paling zalim, dan tauhid merupakan bentuk keadilan yang paling adil.”
(lihat ad-Daa’ wa ad-Dawaa’, hal. 145)
Beliau juga
berkata, “Sesungguhnya orang musyrik adalah orang yang paling bodoh tentang
Allah. Tatkala dia menjadikan makhluk sebagai sesembahan tandingan bagi-Nya.
Itu merupakan puncak kebodohan terhadap-Nya, sebagaimana hal itu merupakan
puncak kezaliman dirinya. Sebenarnya orang musyrik tidaklah menzalimi Rabbnya.
Karena sesungguhnya yang dia zalimi adalah dirinya sendiri.” (lihat ad-Daa’
wa ad-Dawaa’, hal. 145)
Allah ta’ala berfirman
tentang isi wasiat Luqman kepada putranya (yang artinya), “Wahai anakku,
janganlah kamu berbuat syirik. Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar.” (QS. Luqman:
13)
Setiap
perilaku maksiat dan penyimpangan yang dilakukan seorang hamba, pasti akan
menghasilkan dampak buruk yang membahayakan, minimal kepada diri mereka para
pelakunya sendiri. Apalagi jika kemaksiatan dan penyimpangan itu merupakan
sesuatu yang paling dibenci oleh Allah, yakni mempersekutukan-Nya dengan segala
sesuatu yang diciptakan-Nya. Tentunya kemurkaan Allah melebihi kemurkaan yang
disebabkan kemaksiatan dan kezhaliman lain dari seorang manusia yang masih
mungkin dimaklumi dan diampuni-Nya (lihat Bahaya..!!! Tradisi
Kemusyrikan Di Sekitar Kita karya H. Willyuddin A.R. Dhani, S.Pd. Hal.
13 penerbit Abu Hanifah Publishing cet. I, 2007)
Jangan
Selalu Menyalahkan Orang Lain!
Ibnul
Qayyim rahimahullah berkata, “Dan perhatikanlah hikmah yang
Allah ta’ala simpan di balik mengapa Allah menjadikan para
raja, pemimpin, dan penguasa bagi manusia orang-orang yang serupa [buruknya]
dengan perbuatan mereka (rakyat). Bahkan, seolah-olah amal perbuatan mereka itu
terekspresikan di dalam sosok para penguasa dan raja-raja mereka. Apabila
rakyat itu baik niscaya baik pula raja-raja mereka. Apabila mereka (rakyat)
menegakkan keadilan niscaya para penguasa itu menerapkan keadilan atas mereka.
Dan apabila mereka berbuat aniaya (tidak adil) maka raja dan penguasa mereka
pun akan bertindak aniaya kepada mereka. Apabila di tengah-tengah mereka merebak
makar (kecurangan) dan tipu daya, maka demikian pula pemimpin mereka. Apabila
mereka tidak menunaikan hak-hak Allah dan pelit dengannya, demikian pula para
penguasa mereka akan menghalangi hak-hak rakyat yang semestinya ditunaikan
kepada mereka…” (dinukil dariDa’aa’im Minhaj Nubuwwah, hal. 258 oleh
Syaikh Muhammad Sa’id Ruslan)
Di masa
seorang pemimpin yang kejam dan bengis yaitu al-Hajjaj berkuasa, Hasan
al-Bashri memberikan nasehat kepada kaum muslimin, “Wahai umat manusia! Demi
Allah, tidaklah al-Hajjaj dijadikan Allah berkuasa atas kalian kecuali sebagai
hukuman [atas dosa-dosa kita]. Maka janganlah kalian menghadapi [ketetapan]
Allah ini dengan pedang (memberontak). Akan tetapi wajib atas kalian untuk
menghadapinya dengan sikap tenang dan penuh ketundukan.” (lihat Da’aa’im
Minhaj Nubuwwah, hal. 275)
Syaikh
Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah berkata: Sungguh
membuatku kagum ucapan salah seorang penggerak ishlah/perbaikan
pada masa kini. Beliau mengatakan: “Tegakkanlah daulah/pemerintahan Islam di
dalam hati kalian, niscaya ia akan tegak di atas bumi kalian.” (lihat Ma’alim
al-Manhaj as-Salafi fi at-Taghyir, hal. 24)
Saudaraku,
mungkin selama ini kita sering menyerukan penegakan syari’ah namun pada
kenyataannya kita adalah orang yang meremehkan syari’ah. Bisa jadi kita mengaku
membela akidah, tetapi ternyata justru kitalah perusak akidah. Allahul
musta’aan.







0 komentar:
Posting Komentar