Allah ta’ala
berfirman (yang artinya), “Allah bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan)
-yang benar- selain Dia, dan [bersaksi pula] para malaikat serta orang-orang
yang berilmu, demi tegaknya keadilan. Tiada ilah [yang benar] selain Dia, Yang
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali ‘Imran: 18)
al-Kalbi
menuturkan:
Suatu saat ada dua orang pendeta dari Syam datang menemui Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam. Tatkala mereka berdua melihat Madinah, salah seorang
diantara mereka berkata, “Sungguh mirip kota ini dengan ciri-ciri kota tempat
munculnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada akhir zaman.” Tatkala
mereka berdua memasuki kota ini dan melihat beliau, mereka bisa
mengenali beliau dengan ciri-ciri yang ada padanya. Mereka bertanya, “Apakah engkau Muhammad?”. Beliau menjawab, “Iya.” Mereka bertanya lagi, “Apakah engkau Ahmad?”. Beliau menjawab, “Aku adalah Muhammad dan juga Ahmad.” Lalu mereka berdua berkata, “Kami akan menanyakan kepadamu tentang sesuatu. Apabila engkau memberitakannya kepada kami niscaya kami akan beriman dan membenarkanmu.” Nabi berkata, “Kalau begitu tanyakanlah.”
mengenali beliau dengan ciri-ciri yang ada padanya. Mereka bertanya, “Apakah engkau Muhammad?”. Beliau menjawab, “Iya.” Mereka bertanya lagi, “Apakah engkau Ahmad?”. Beliau menjawab, “Aku adalah Muhammad dan juga Ahmad.” Lalu mereka berdua berkata, “Kami akan menanyakan kepadamu tentang sesuatu. Apabila engkau memberitakannya kepada kami niscaya kami akan beriman dan membenarkanmu.” Nabi berkata, “Kalau begitu tanyakanlah.”
Mereka bertanya, “Kabarkanlah kepada kami
tentang suatu syahadat/persaksian yang paling agung di dalam Kitabullah ‘azza
wa jalla.” Maka Allah menurunkan ayat ini dan masuk Islamlah kedua orang
itu (lihat Ma’alim at-Tanzil, hal. 194 oleh Imam al-Baghawi rahimahullah)
Imam Ibnu
Abil ‘Izz al-Hanafi rahimahullah berkata, “Ayat yang mulia ini
mengandung penetapan hakikat tauhid dan bantahan bagi seluruh kelompok sesat.
Ia mengandung persaksian yang paling mulia, paling agung, paling adil, dan
paling jujur, yang berasal dari semulia-mulia saksi terhadap sesuatu perkara
yang paling mulia untuk dipersaksikan.” (lihat Syarh al-’Aqidah
ath-Thahawiyah, hal. 90 cet. al-Maktab al-Islami)
Makna
persaksian ini adalah bahwa Allah telah mengabarkan, menerangkan,
memberitahukan, menetapkan, dan memutuskan bahwa segala sesuatu selain-Nya
bukanlah ilah/sesembahan [yang benar] dan bahwasanya penuhanan segala sesuatu
selain-Nya adalah kebatilan yang paling batil. Menetapkan hal itu [ilahiyah
pada selain Allah] adalah kezaliman yang paling zalim. Dengan demikian, tidak
ada yang berhak untuk disembah kecuali Dia, sebagaimana tidak layak sifat
ilahiyah disematkan kepada selain-Nya. Konsekuensi hal ini adalah perintah
untuk menjadikan Allah semata sebagai ilah dan larangan mengangkat selain-Nya
sebagai sesembahan lain bersama-Nya (lihat at-Tafsir al-Qayyim, hal. 178
oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah)
Allah ta’ala
berfirman (yang artinya), “Yang demikian itu, karena Allah adalah [sesembahan]
yang benar, adapun segala yang mereka seru selain Allah adalah batil. Dan
sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al-Hajj: 62)
Imam Ibnu
Katsir rahimahullah menjelaskan, “Adapun segala yang mereka seru selain
Allah adalah batil; yaitu patung, tandingan, berhala, dan segala sesuatu yang
disembah selain Allah maka itu adalah [sesembahan yang] batil; karena ia tidak
menguasai kemanfaatan maupun madharat barang sedikit pun.” (lihat Tafsir
al-Qur’an al-’Azhim [5/449])
Dari ‘Itban
bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan api neraka kepada orang yang
mengucapkan laa ilaha illallah dengan ikhlas karena ingin mencari wajah Allah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Syaikh
Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Syahadat dengan
lisan saja tidak cukup. Buktinya adalah kaum munafik juga mempersaksikan
keesaan Allah ‘azza wa jalla. Akan tetapi mereka hanya bersaksi dengan
lisan mereka. Mereka mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak mereka yakini di
dalam hati mereka. Oleh sebab itu ucapan itu tidak bermanfaat bagi mereka…”
(lihat Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, hal. 23 cet. Dar Tsurayya).
Dari Anas
bin Malik radhiyallahu’anhu, beliau mengisahkan bahwa suatu saat Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam memboncengkan Mu’adz di atas seekor binatang tunggangan
(keledai bernama ‘Ufair). Nabi berkata, “Wahai Mu’adz.” Mu’adz menjawab,
“Kupenuhi panggilanmu dengan senang hati, wahai Rasulullah.” Lalu Nabi berkata,
“Hai Mu’adz.” Mu’adz menjawab, “Kupenuhi panggilanmu dengan senang hati, wahai
Rasulullah.” Sampai tiga kali. Lalu Nabi bersabda, “Tidak ada seorang pun yang
bersaksi bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah dan Muhammad
adalah utusan Allah secara jujur dari dalam hatinya kecuali Allah pasti
mengharamkan dia tersentuh api neraka.” Mu’adz berkata, “Wahai Rasulullah,
apakah tidak sebaiknya saya menyampaikan kabar ini kepada orang-orang agar
mereka bergembira?”. Beliau menjawab, “Kalau hal itu disampaikan, nantinya
mereka justru bersandar kepadanya (malas beramal)?”. Menjelang kematiannya,
Mu’adz pun menyampaikan hadits ini karena khawatir terjerumus dalam dosa
[akibat menyembunyikan ilmu] (HR. Bukhari dan Muslim)
Tauhid
Misi Utama Dakwah Para Nabi dan Rasul
Allah ta’ala
berfirman (yang artinya), “Tidaklah Kami mengutus sebelum engkau [Muhammad]
seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya; tidak ada ilah [yang benar]
selain Aku, maka sembahlah Aku [saja].” (QS. Al-Anbiya’: 25)
Imam
al-Baghawi rahimahullah menafsirkan makna perintah ‘sembahlah Aku’
dengan ‘tauhidkanlah Aku’ (lihat Ma’alim at-Tanzil, hal. 834)
Imam Ibnu
Katsir rahimahullah mengatakan, “Maka setiap kitab suci yang diturunkan
kepada setiap nabi yang diutus semuanya menyuarakan bahwa tidak ada ilah [yang
benar] selain Allah, akan tetapi kalian -wahai orang-orang musyrik- tidak mau
mengetahui kebenaran itu dan kalian justru berpaling darinya…” “Maka setiap
nabi yang diutus oleh Allah mengajak untuk beribadah kepada Allah semata dan
tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Bahkan fitrah pun telah
mempersaksikan kebenaran hal itu. Adapun orang-orang musyrik sama sekali tidak
memiliki hujjah/landasan yang kuat atas perbuatannya. Hujjah mereka tertolak di
sisi Rabb mereka. Mereka layak mendapatkan murka Allah dan siksa yang amat
keras dari-Nya.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [5/337-338] cet. Dar
Thaibah)
Allah ta’ala
berfirman (yang artinya), “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat
seorang rasul [yang berseru]: Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS.
An-Nahl: 36)
Allah ta’ala
berfirman (yang artinya), “Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka
dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan
selain-Nya.” (QS. Al-A’raaf: 59).
Allah ta’ala
berfirman (yang artinya), “Dan kepada kaum ‘Aad, Kami utus saudara mereka yaitu
Hud. Dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan
selain-Nya.” (QS. al-A’raaf: 65).
Allah ta’ala
berfirman (yang artinya), “Dan kepada kaum Tsamud, Kami utus saudara mereka
yaitu Shalih. Dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian
sesembahan selain-Nya.” (QS. Al-A’raaf: 73).
Allah
ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan kepada kaum Madyan, Kami utus saudara
mereka yaitu Syu’aib. Dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi
kalian sesembahan selain-Nya.” (QS. Al-A’raaf: 85).
Syaikh
Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili hafizhahullah berkata, “Barangsiapa
mentadabburi Kitabullah serta membaca Kitabullah dengan penuh perenungan,
niscaya dia akan mendapati bahwasanya seluruh isi al-Qur’an; dari al-Fatihah
sampai an-Naas, semuanya berisi dakwah tauhid. Ia bisa jadi berupa seruan untuk
bertauhid, atau bisa juga berupa peringatan dari syirik. Terkadang ia berupa
penjelasan tentang keadaan orang-orang yang bertauhid dan keadaan orang-orang
yang berbuat syirik. Hampir-hampir al-Qur’an tidak pernah keluar dari
pembicaraan ini. Ada kalanya ia membahas tentang suatu ibadah yang Allah
syari’atkan dan Allah terangkan hukum-hukumnya, maka ini merupakan rincian dari
ajaran tauhid…” (lihat Transkrip Syarh al-Qawa’id al-Arba’, hal. 22)
Syaikh
as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Seluruh isi al-Qur’an berbicara
tentang penetapan tauhid dan menafikan lawannya. Di dalam kebanyakan ayat,
Allah menetapkan tauhid uluhiyah dan kewajiban untuk memurnikan
ibadah kepada Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya. Allah pun mengabarkan
bahwa segenap rasul hanyalah diutus untuk mengajak kaumnya supaya beribadah
kepada Allah saja dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Allah
pun menegaskan bahwa tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia kecuali supaya
mereka beribadah kepada-Nya. Allah juga menetapkan bahwasanya seluruh kitab
suci dan para rasul, fitrah dan akal yang sehat, semuanya telah sepakat
terhadap pokok ini. Yang ia merupakan pokok paling mendasar diantara segala
pokok ajaran agama.” (lihat al-Majmu’ah al-Kamilah [8/23])
Imam Ibnu
Abil ‘Izz al-Hanafi rahimahullah mengatakan, “al-Qur’an berisi
pemberitaan tentang Allah, nama-nama-Nya, dan sifat-sifat-Nya. Inilah yang
disebut dengan istilah tauhid ilmu dan pemberitaan. Selain itu al-Qur’an juga
berisi seruan untuk beribadah hanya kepada-Nya yang tiada sekutu bagi-Nya serta
ajakan untuk mencampakkan sesembahan selain-Nya. Itulah yang disebut dengan
istilah tauhid kehendak dan tuntutan. al-Qur’an itu juga berisi perintah dan
larangan serta kewajiban untuk patuh kepada-Nya. Itulah yang disebut dengan
hak-hak tauhid dan penyempurna atasnya. Selain itu, al-Qur’an juga berisi
berita tentang kemuliaan yang Allah berikan bagi orang yang mentauhidkan-Nya,
apa yang Allah lakukan kepada mereka ketika masih hidup di dunia, dan kemuliaan
yang dianugerahkan untuk mereka di akhirat. Itulah balasan atas tauhid yang dia
miliki. Di sisi yang lain, al-Qur’an juga berisi pemberitaan mengenai keadaan
para pelaku kesyirikan, tindakan apa yang dijatuhkan kepada mereka selama di
dunia, dan siksaan apa yang mereka alami di akhirat. Maka itu adalah hukuman
yang diberikan kepada orang yang keluar dari hukum tauhid. Ini menunjukkan
bahwa seluruh isi al-Qur’an membicarakan tentang tauhid,
hak-haknya, dan balasan atasnya. Selain itu, al-Qur’an pun membeberkan tentang
masalah syirik,
keadaan pelakunya, serta balasan atas kejahatan mereka.” (lihat Syarh al-’Aqidah
ath-Thahawiyah dengan takhrij al-Albani, hal. 89 cet. al-Maktab
al-Islami)
Diterangkan
oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah bahwasanya dakwah
para rasul itu berporos pada tiga perkara:
- Memperkenalkan keagungan Allah kepada hamba-hamba-Nya melalui nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya
- Menunjukkan dan menjelaskan kepada mereka jalan yang akan mengantarkan kepada-Nya, yaitu dengan berdzikir, bersyukur, dan beribadah kepada-Nya
- Menerangkan kepada mereka tentang balasan yang akan mereka terima sesampainya mereka di hadapan-Nya, berupa kenikmatan surga dan yang paling utama di antaranya adalah keridhaan Allah dan kenikmatan memandang wajah-Nya dan Allah pun mengajak bicara dengan mereka (lihat Fiqh al-Asma’ al-Husna, hal. 16-17)
Allah ta’ala
berfirman (yang artinya), “Allah lah yang telah menciptakan tujuh lapis langit
dan bumi seperti itu pula. Turunlah perintah-Nya di antara itu semua. Supaya
kalian mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan bahwasanya ilmu
Allah meliputi segala sesuatu.” (QS. ath-Thalaq: 12).
Syaikh
Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr hafizhahullah berkata, “Oleh sebab
itu tatkala seorang hamba menyibukkan diri untuk memahami nama-nama Allah dan
sifat-sifat-Nya maka itu adalah sebuah kesibukan dalam rangka mewujudkan hikmah
penciptaan hamba itu sendiri. Dengan dia meninggalkan dan melalaikan hal itu,
maka itu berarti dia telah melalaikan hikmah penciptaan dirinya. Tidak
sepantasnya bagi seorang hamba yang telah mendapatkan karunia Allah yang sangat
besar dan nikmat Allah pun terus-menerus tercurah kepadanya lantas dia justru
bodoh tentang Rabbnya dan berpaling dari mengenal-Nya…” (lihat Fiqh
al-Asma’ al-Husna, hal. 25)
Allah ta’ala
berfirman memberitakan ucapan Nabi ‘Isa ‘alaihis salam (yang artinya),
“Maka bertakwalah kalian kepada Allah dan taatilah aku. Sesungguhnya Allah
adalah Rabbku dan Rabb kalian, maka sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.”
(QS. Ali Imran: 50-51, lihat juga QS. Az-Zukhruf: 63-64).
Syaikh
as-Sa’di rahimahullah berkata, “Inilah, yaitu penyembahan kepada Allah,
ketakwaan kepada-Nya, serta ketaatan kepada rasul-Nya merupakan ‘jalan lurus’
yang mengantarkan kepada Allah dan menuju surga-Nya, adapun yang selain jalan
itu maka itu adalah jalan-jalan yang menjerumuskan ke neraka.” (lihat Taisir
al-Karim ar-Rahman, hal. 132 cet. ar-Risalah)
Ibnul Qayyim
rahimahullah berkata, “…Sesungguhnya kebenaran itu hanya satu, yaitu
jalan Allah yang lurus, tiada jalan yang mengantarkan kepada-Nya selain jalan
itu. Yaitu beribadah kepada Allah tanpa mempersekutukan-Nya dengan apapun
dengan menjalankan syari’at yang ditetapkan-Nya melalui lisan Rasul-Nya shallallahu
‘alaihi wa sallam, bukan dengan [landasan] hawa nafsu maupun
bid’ah-bid’ah…” (lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 116-117)
—
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel Muslim.Or.Id







0 komentar:
Posting Komentar