Kita sering mendengar
orang bekata “yang penting niat”, namun sayangnya tidak sedikit dari yang
mengatakannya menggiring kalimat tersebut menjadi candaan. Padahal kalimat ini adalah kalimat dakwah yang memiliki
makna besar. Bahkan apa yang menjadi obyek dari kalimat tersebut yakni niat,
sangat berpengaruh pada kualitas amal seseorang.
Apa ada diantara kita
yang mau, capek-capek beramal namun ternyata tidak berkualitas? Barangkali hal
tersebut masih ringan dibanding capek-capek beramal, yang diperoleh justru
dosa. Loh, kenapa bisa? Jawabannya adalah “niat”.
“Sesungguhnya setiap
amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan
dibalas) sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan
Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang
hijrahnya karena urusan dunia yang ingin digapainya atau karena seorang wanita
yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkannya
tersebut” (HR.
al-Bukhāriy dan Muslim)
Ingatlah, bahwa setiap kualitas
amalan yang kita lakukan sangat bergantung pada niat. Jika amalan itu dilakukan
semata untuk mencari keridhaan Allah Taála maka keridhaan Allah Taála-lah yang
akan ia dapatkan. Namun jika niat yang ia niatkan saat melakukan suatu amal
bukan atas dasar mencari keridhaan Allah Taála, maka apa yang ia niatkan itulah
yang akan ia dapatkan.
Ketahuilah pula,
bahwasanya setiap amalan yang tidak diniatkan karena Allah tidak akan membawa
mashlahat bagi hamba tersebut. Justru kesuksesan (menurut dirinya) tersebut sesungguhnya
adalah petaka baginya dan itu adalah awal sebab jika orang tersebut tidak lekas
bertaubat kepada Allah maka siksa di akhirat menantinya.
Suatu amal perbuatan
dapat menjadi kebaikan yang berpahala bagi seseorang, namun dapat pula menjadi
dosa yang diharamkan bagi seseorang yang lain, adalah sesuai dengan niatnya. Seseorang
akan mendapatkan pahala kebaikan, atau dosa, atau terjerumus dalam perbuatan
haram juga dikarenakan niatnya.
Macam-macam niat
Istilah niat meliputi dua hal; menyengaja melakukan
suatu amalan [niyat al-'amal] dan memaksudkan amal itu untuk tujuan tertentu
[niyat al-ma'mul lahu].
Yang dimaksud niyatu al-’amal adalah
hendaknya ketika melakukan suatu amal, seseorang menentukan niatnya terlebih
dulu untuk membedakan antara satu jenis perbuatan dengan perbuatan yang
lain. Misalnya mandi, harus dipertegas di dalam hatinya apakah niatnya
untuk mandi biasa ataukah mandi besar. Dengan niat semacam ini akan terbedakan
antara perbuatan ibadat dan non-ibadat/adat. Demikian juga, akan terbedakan
antara jenis ibadah yang satu dengan jenis ibadah lainnya. Misalnya, ketika
mengerjakan shalat [2 raka'at] harus dibedakan di dalam hati antara shalat
wajib dengan yang sunnah. Inilah makna niat yang sering disebut dalam
kitab-kitab fikih.
Sedangkan niyat al-ma’mul lahu maksudnya
adalah hendaknya ketika beramal tidak memiliki tujuan lain kecuali
dalam rangka mencari keridhaan Allah, mengharap pahala, dan terdorong oleh
kekhawatiran akan hukuman-Nya. Dengan kata lain, amal itu harus
ikhlas. Inilah maksud kata niat yang sering disebut dalam kitab aqidah
atau penyucian jiwa yang ditulis oleh banyak ulama salaf dan disabdakan
oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalam al-Qur’an, niat
semacam ini diungkapkan dengan kata-kata iradah (menghendaki) atau ibtigha’
(mencari). (Diringkas dari keterangan Syaikh as-Sa’di dalam Bahjat al-Qulub
al-Abrar, sebagaimana tercantum dalam ad-Durrah as-Salafiyah, hal. 36-37 dengan
sedikit penambahan dari Jami’ al-’Ulum oleh Ibnu Rajab hal. 16-17)
Pentingnya
Ikhlas
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan dalam rangka menguji kalian; siapakah di antara kalian orang yang terbaik amalnya.” (QS. al-Mulk : 2).
al-Fudhail
bin ‘Iyadh rahimahullah menafsirkan makna ‘yang
terbaik amalnya’ yaitu ‘yang paling ikhlas dan paling benar’.
Apabila amal itu ikhlas namun tidak benar, maka tidak akan diterima. Begitu
pula apabila benar tapi tidak ikhlas, maka juga tidak diterima. Ikhlas yaitu
apabila dikerjakan karena Allah. Benar yaitu apabila di atas sunnah/tuntunan
(Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyat al-Auliya’ [8/95] sebagaimana
dinukil dalam Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 50.
Lihat pula Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 19)
Pada suatu
saat sampai berita kepada Abu Bakar tentang pujian orang-orang terhadap
dirinya. Maka beliau pun berdoa kepada Allah, ”Ya Allah. Engkau lah
yang lebih mengetahui diriku daripada aku sendiri. Dan aku lebih mengetahui
diriku daripada mereka. Oleh sebab itu ya Allah, jadikanlah aku lebih baik
daripada yang mereka kira. Dan janganlah Kau siksa aku karena akibat ucapan
mereka. Dan ampunilah aku dengan kasih sayang-Mu atas segala sesuatu yang tidak
mereka ketahui.” (Kitab Az Zuhd Nu’aim bin Hamad, dinukil dari Ma’alim
fi Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 119)
Mutharrif
bin Abdullah rahimahullah mengatakan, “Baiknya hati
dengan baiknya amalan, sedangkan baiknya amalan dengan baiknya niat.” (Sebagaimana
dinukil oleh Ibnu Rajab dalam Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 19). Ibnu
al-Mubarak rahimahullah mengatakan,“Betapa banyak amal
kecil menjadi besar karena niat. Dan betapa banyak pula amal besar menjadi
kecil gara-gara niat.” (Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Rajab dalam
Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 19)
Seorang
ulama yang mulia dan sangat wara’ (berhati-hati) Sufyan Ats Tsauri rahimahullahberkata, ”Tidaklah
aku menyembuhkan sesuatu yang lebih sulit daripada niatku.” (Tadzkiratus
Sami’ wal Mutakallim, dinukil dari Ma’alim fii Thariq Thalabil ‘Ilmi,
hal. 19)
Pada suatu
ketika sampai berita kepada Imam Ahmad bahwa orang-orang mendoakan kebaikan
untuknya, maka beliau berkata, ”Semoga saja, ini bukanlah bentuk
istidraj (yang membuatku lupa diri).” (Siyar A’lamin Nubala’, dinukil
dari Ma’alim fii Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 22)
Begitu pula
ketika salah seorang muridnya mengabarkan pujian orang-orang kepada beliau,
maka Imam Ahmad mengatakan kepada si murid, ”Wahai Abu Bakar. Apabila
seseorang telah mengenali hakikat dirinya sendiri maka ucapan orang tidak akan
berguna baginya.” (Siyar A’lamin Nubala’, dinukil dari Ma’alim fii
Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 22)
Ad
Daruquthni rahimahullah mengatakan, ”Pada awalnya kami
menuntut ilmu bukan semata-mata karena Allah, akan tetapi ternyata ilmu
enggan sehingga menyeret kami untuk ikhlas dalam belajar karena Allah.” (Tadzkiratus
Sami’ wal Mutakallim, dinukil dari Ma’alim fii Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 20)
Asy
Syathibi rahimahullah mengatakan, ”Penyakit hati yang
paling terakhir menghinggapi hati orang-orang salih adalah suka mendapat
kekuasaan dan gemar menonjolkan diri.” (Al I’tisham, dinukil dari
Ma’alim fii Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 20)
Di dalam
biografi Ayyub As Sikhtiyani disebutkan oleh Syu’bah bahwa Ayyub mengatakan,”Aku
sering disebut orang, namun aku tidak senang disebut-sebut.” (Siyar
A’lamin Nubala’, dinukil dari Ma’alim fii Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 22)
Seorang
ulama mengatakan, ”Orang yang benar-benar berakal adalah yang mengenali
hakikat dirinya sendiri serta tidak terpedaya oleh pujian orang-orang yang
tidak mengerti hakikat dirinya” (Dzail Thabaqat Hanabilah, dinukil
dari Ma’alim fi Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 118)
Ibnul
Qayyim rahimahullah mengatakan, ”Tahun ibarat sebatang pohon
sedangkan bulan-bulan adalah cabang-cabangnya, jam-jam adalah daun-daunnya dan
hembusan nafas adalah buah-buahannya. Barang siapa yang pohonnya tumbuh
di atas kemaksiatan maka buah yang dihasilkannya adalah hanzhal (buah yang
pahit dan tidak enak dipandang, pent) sedangkan masa untuk memanen itu semua
adalah ketika datangnya Yaumul Ma’aad (kari kiamat). Ketika dipanen barulah
akan tampak dengan jelas buah yang manis dengan buah yang pahit. Ikhlas dan
tauhid adalah ‘sebatang pohon’ di dalam hati yang cabang-cabangnya adalah
amal-amal sedangkan buah-buahannya adalah baiknya kehidupan dunia dan surga
yang penuh dengan kenikmatan di akherat. Sebagaimana buah-buahan di surga tidak
akan akan habis dan tidak terlarang untuk dipetik maka buah dari tauhid
dan keikhlasan di dunia pun seperti itu. Adapun syirik,
kedustaan, dan riya’ adalah pohon yang tertanam di dalam hati yang buahnya di
dunia adalah berupa rasa takut, kesedihan, gundah gulana, rasa sempit di dalam
dada, dan gelapnya hati, dan buahnya di akherat nanti adalah berupa buah Zaqqum
dan siksaan yang terus menerus. Allah telah menceritakan kedua macam pohon
ini di dalam surat Ibrahim.” (Al Fawa’id, hal. 158).
Syaikh Prof.
Dr. Ibrahim ar-Ruhaili hafizhahullah mengatakan, “Ikhlas dalam beramal karena Allah ta’ala
merupakan rukun paling mendasar bagi setiap amal salih. Ia merupakan pondasi
yang melandasi keabsahan dan diterimanya amal di sisi Allah ta’ala, sebagaimana
halnya mutaba’ah (mengikuti tuntunan) dalam melakukan amal merupakan rukun
kedua untuk semua amal salih yang diterima di sisi Allah.” (Tajrid al-Ittiba’
fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 49)







0 komentar:
Posting Komentar