Bismillah, washalatu washalamu ‘ala rasulillah wa ‘alaa ‘aalihi wa ash’hobihi wa sallam
Segala puji bagi Allah, satu-satu Dzat yang berhak disembah dan diibadahi.
Tak ada rahasia jika manusia memang tak pernah lepas dari kesalahan. Dan sudah menjadi sunnatullah jika tak ada manusia yang sempurna selain Nabi shallallahu ‘alaihi washallam. Hampir pasti sulit bagi kita untuk menghindarkan diri dari yang namanya kesalahan bahkan terhadap orang yang memiliki kesalahan pada diri kita.
Tidak pula dalam berlembaga, selalu ada celah dimana kesalahan itu muncul dan merubah alur. Arus lembut yang sebelumnya mengalir dengan tenang bisa saja berbelok hanya karena sedikit kesalahan. Walau sebenarnya kita bisa membenarkan alur itu kembali kalau kita bisa memberi sedikit waktu untuk mengatur kembali suhu komunikasi dan tekanan jiwa kita.
Memang tak seorang pun manusia yang sudi menjadi budak orang lain. Selalu dinasehati untuk bersabar, memahami kondisi, memberi sedikit waktu dan segudang alasan yang mungkin bagi sebahagian orang hal tersebut adalah permasalahan kecil.
Ketahuilah, segala bentuk nasehat yang dipersembahkan dengan penuh keikhlasan, pada hakekatnya bukan kehinaan yang sengaja dilontarkan seorang keoada saudaranya. Bahkan ia merupakan bukti kedalaman rasa cinta sebagai wujud akan pengamalan sabda Rasulullah shallahu ‘alaihi washallam:
“Tidaklah beriman salah seorang diantara kalian hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ya, rasa cinta yang membuat dirinya tidak tega menyakiskan saudaranya terjatuh dalam kekeliruan. Dan kiranya tidak sesuatu yang paling mulia dipersembahkan seorang kepada saudaranya melebihi nasehat yang baik. Mencegah mereka dari kekeliruan dan harga diri, serta berupaya agar saudaranya turut selamat dari adzab dan murka Allah Ta’ala. Kendati harus dipahami, nasehat itu kadang terasa pahit dan menyesakkan. Ibarat minum jamu, rasanya getir dan memuakkan. Akan tetapi buah dan hasilnya sangat bermanfaat dikemudian hari.
Seorang pemimpin, meski ia memiliki bawahan, tetapi tetaplah ia tak bisa memiliki dan mengendalikan secara penuh bawahannya. Kumpulan manusia yang menjadi tanggung jawabnya itu sejatinya adalah mitra yang bisa diajak kerjasama untuk mewujudkan berbagai keinginan dan harapan yang telah disepakati bersama. Itu sebabnya pula, seorang bawahan sejatinya jangan merasa dikerdilkan perannya, tapi menjadi pendukung gerak dalam meraih keinginan dan harapan yang disepakati bersama atas keputusan yang ditetapkan atasan. Alangkah indah hubungan seperti ini, karena kita bukan saja bisa bersama tapi sekaligus bersatu.
Kebersamaan dan kesatuan yang terjalin erat di antara kita tentunya dibangun oleh sebuah komitmen. Komitmen untuk saling memahami. Sebab, tanpa saling memahami, kita akan senantiasa salah paham dan bahkan salah persepsi. Tidak seiring sejalan, tidak kompak dan malah bertolak belakang. Masing-masing merasa benar sendiri, masing-masing merasa lebih memahami. Jika ini yang terjadi, berarti ada masaalah dalam komunikasi di antara kita dan tentu saja tak akan pernah terwujud itikad untuk saling memahami.
Sebenarnya tidak sulit untuk menumbuhkan tanaman indah yang bunganya dinamakan” saling memahami”. Ia akan tumbuh ketika kondisi hati kita berbesar hati dengan takdir Allah. Sehingga, kekurangan dan kelebihan yang ada di antara kita bukan menjadi beban yang saling membebani atau menjadi jurang pemisah tetapi melahirkan kedewasaan dalam berfikir dan rasa bijak dalam memutuskan hingga kita bisa saling memaklumi kondisi masing-masing. Pada saat itulah, hubungan akan kian hangat, dan penuh semangat untuk menjalankan apa yang sudah menjadi komitmen kita bersama. Akan muncul kekuatan besar yang tergabung dari satunya pandangan dan padunya hati, berusaha untuk saling melengkapi dan menguatkan. Saling percaya dan saling peduli.
Sesungguhnya tak mungkin bisa terus langgeng sebuah kebersamaan, tanpa itikad baik untuk saling memahami pribadi masing-masing. Memahami pribadi masing-masing berarti harus rela untuk menerima kenyataan bahwa hakikatnya kita bukanlah manusia yang sempurna. Itu sebabnya, jangan takut mengakui bahwa diri kita tidaklah sempurna juga jangan enggan untuk menerima jika orang lain pun tak sempurna. Ketidaksempurnaan inilah yang merupakan sulaman benang rapuh untuk mengikat kita satu sama lain.
Pandanglah ia sebagai warna. Ibarat kain yang indah, kita lahir dengan membawa warna benang karakter yang berbeda-beda. Dan saat benang ini kita sulam dengan sabar dan penuh kesahajaan serta pengertian, yakinlah hasilnya adalah kain yang indah.
Saling memahami, juga akan menghindarkan kita dari prasangka buruk terhadap sahabat kita. Rasulullah shallahu ‘alaihi washallam bersabda:
“Jauhilah prasangka, karena prasangka itu merupakan perkataan yang paling dusta.” (HR Bukhari dan Muslim)
Begitu pula jika kita ingin saling memahami dengan saudara kita, maka tunjukkan bahwa diri kita mencintainya. Agar ia paham, bahwa dirinya kita cintai. Sabda Rasulullah shallahu ‘alaihi washallam,
“Jika salah seorang di antara kalian mencintai saudaranya, maka hendaklah ia menyatakannya kepadanya.” (HR at-Tirmidzy, Abu Daud dan Bukhari)
Yang pasti berjuang menegakkan agama Allah Ta’ala dibutuhkan komitmen kuat dalam setiap derap langkah kita. Kesemuanya lahir dari sucinya niat, karena keikhlasan selalu menyadarkan pemilik hati bahwa apa yang ia kerjakan, apapun posisinya, adalah daram rangka menjayakan agama Allah.
"Maafkanlah",,
Jalan ini masih panjang.. terlau sepi jika hanya melintasi seorang diri. Mari saling memahami. Sisakan sedikit ruang untuk memahami dalam qalbu. Biarkan ia bersemayam disana. Walau saat ini kita masih berat untuk menerimanya. Bisa saja ia menjadi pengingat di kemudian hari. Bahwa ternyata, masih ada saudara yang peduli terhadap diri kita. Masih ada rasa cinta yang tegak di atas landasan iman. Cinta yang melahirkan kekuatan untuk saling memahami satu sama lain. Wallahu a’lam.
Ali Hizaam 2 Rabi’ul 1433 H
Abdullah al Buthony







0 komentar:
Posting Komentar