Allah subuhanahu wa ta’ala
memuliakan orang yang menjadi Ahlulqur’an dengan membaca, menghafal, dan
mengamalkannya dengan berbagai macam keistimewaan di dunia dan akhirat.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memberikan keistimewaan terhadap para
penghafal Al-Qur’an melalui sabda beliau:
“Ahlulqur’an adalah keluarga dan
orang-orang khusus di sisi Allah.” (HR. An Nasaa’i dan Ibnu Maajah)
Ahlulqur’an adalah orang-orang
yang terdekat dari Allah subuhanahu wa ta’la, karena keagungan atas apa yang
mereka miliki. Bagaimana tidak? Mereka mempelajari ilmu yang paling agung, ilmu
yang paling mulia dan paling terhormat kedudukannya.
Para ulama berbeda pendapat
tentang mana yang lebih utama, membaca atau menghafal Qur’an? Sebagian mereka
menganggap lebih utama membaca Al-Qur’an. Namun sebagian lain menganggap
menghafal al-Qur’an lebih utama. Masing-masing diantara dua kelompok tersebut menyebutkan
berbagai faktor yang menopang pendapat mereka serta beberapa kondisi spesifik
yang menyebabkan
salah satu dari keduanya lebih utama.
Para sahabat demikian kuat
hasratnya membaca dan menghafal Al-Qur’an. Bahkan Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam memberikan tempat yang lebih tinggi kepada seorang diantara
mereka dengan hafalan Qur’annya. Diriwayatkan dengan shohih dari Abuu Mas’uud
Al-Badrii radhiallahu
“Yang menjadi imam sholat adalah
diantara sekelompok kaum muslimin adalah yang paling qoori’ (paling baik
bacaannya atau paling banyak hafalannya) terhadap Kitaabullah.” (HR. Muslim)
Dari Jabir bin Abdullah
diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga memberikan
panji perang dalam jihad kepada orang yang paling banyak hafalan Qur’annya.
Dari Ibnu Umar diriwayatkan, dari
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diceritakan bahwa beliau bersabda:
“Hasad hanya dibolehkan terhadap
dua orang: orang yang diberikan hafalan Qur’an oleh Allah, lalu ia selalu
membacanya di tengah malam dan di siang hari. Dan orang yang diberikan harta
oleh Allah, lalu siang dan malam ia selalu menginfakkannya.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Diriwayatkan bahwa jumlah anak
tangga disurga nanti bergantung pada jumlah ayat Al-Qur’an. Akan dikatakan
kepada seorang goori’ di hari kiamat nanti, “Bacalah satu ayat Al-Qur’an lalu
naiklah anak tangga.” Kalau ia hafal setengah Al-Qur’an, akan dikatakan
kepadanya, “Kalau engkau hafal lebih dari itu, kami juga menambahkan pahalanya
kepadamu.” (Tanbbihu ‘l-Ghoofiliin, Juz II hal, 459)
Riwayat ini sesuai dengan riwayat
lain dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:
“Akan didatangkan kepada qoori’
di hari kiamat nanti, ‘Bacalah satu ayat Al-Qur’an, lalu naiklah anak tangga,
bacalah ayat itu dengan tartil sebagaimana engkau membacanya selama di dunia.
Derajatmu adalah pada terakhir yang engkau baca.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi,
beliau berkomentar, “Hadits ini Hasan Shohiih)
Pahala jugadiberikan sesuai
dengan tingkat kesulitan saat membaca Al-Qur’an. Manusia pun bertingkat-tingkat
kemampuan dan keterampilannya dalam embaca Al-Qur’an. Dari Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam diriwayatkan bahwa beliau bersabda:
“Orang yang membaca AL-Qur’an
dengan lancar akan dikumpulkan bersama dengan para malaikat yang baik dan
mulia. Sementara orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan mengalai
kesulitan dalam membacanya, akan memperoleh dua pahala.” (HR. Bukhari Muslim)
Berkaitan dengan majelis
Al-Qur’an dan keutamaannya, diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
bahwa beliau bersabda:
“Setiap kali kelompok orang
berkumpul disalah satu rumah Allah, lalu membaca Kitabullah dan mempelajarinya
diantara mereka, pasti akan turun kepada mereka sakinah, mereka akan dinaungi
oleh rahmat, didoakan oleh para malaikat, dan akan disebut-sebut oleh Allah di
sisi-Nya.” (HR. Muslim dan Abu Dawud)
Orang terbaik adalah yang
menyibukkan diri dengan Kitabullah, menjauhkan segala hal yang melalaikan
dirinya dari akhirat. Jika sudah sampai pada standar yang diinginkan ia akan
mengajarkannya kepada orang sehingga bisa berkhidmat kepada umat.
Dari Utsmaan bin Affaan radhiallahu
‘anhu diriwayatkan bahwa ia menceritakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda:
“Yang terbaik di antara kalian
adalah orang yang mempelajari AL-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Muslim dan
Abu Dawud)
Naafi’ bin Haarits pernah mewakilkan
pemerintahan di kota Mekkah kepada ‘Abdurrahman bin Abzaa Al-Khuzaa’i, ketika
ia berjumpa dengan ‘Umar bin Khoththoob di Usafaan. ‘Umar bertanya, “Kepada
siapa engkau serahkan urusan para penduduk Lembah (Mekkah)?” Naafi’ menjawab,
“Abzaa, “Beliau bertanya lagi,”Abzaa siapa?” Naafi’ menjawab, “Ia orang yang
alim di bidang ilmu Faroidh, hafal Kitabullah,” Umar berkata, “Sesungguhnya
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya dengan Al-Qur’an
ini Allah mengangkat derajat sebagian orang dan merendahkan derajat sebagian
yang lain.” (Siar A’laami ‘n-Nubalaa I: 365)
Diriwayatkan juga bahwa Umar bi
Khaththab berkomentar, “Abzaa termasuk orang yang diangkat derajatnya oleh
Allah dengan Qur’an. (Siar A’laami ‘n-Nubalaa I: 365)
Sumber: Mu’awwiqotu Tilaawati wa
Hifzhu Kitaabillaahi, Hayaa Ar-Rosyiid







0 komentar:
Posting Komentar