31 Maret 2013

Keutamaan Al-Qur'an



Allah subuhanahu wa ta’ala memuliakan orang yang menjadi Ahlulqur’an dengan membaca, menghafal, dan mengamalkannya dengan berbagai macam keistimewaan di dunia dan akhirat. 

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memberikan keistimewaan terhadap para penghafal Al-Qur’an melalui sabda beliau:
“Ahlulqur’an adalah keluarga dan orang-orang khusus di sisi Allah.” (HR. An Nasaa’i dan Ibnu Maajah)

Ahlulqur’an adalah orang-orang yang terdekat dari Allah subuhanahu wa ta’la, karena keagungan atas apa yang mereka miliki. Bagaimana tidak? Mereka mempelajari ilmu yang paling agung, ilmu yang paling mulia dan paling terhormat kedudukannya.

Para ulama berbeda pendapat tentang mana yang lebih utama, membaca atau menghafal Qur’an? Sebagian mereka menganggap lebih utama membaca Al-Qur’an. Namun sebagian lain menganggap menghafal al-Qur’an lebih utama. Masing-masing diantara dua kelompok tersebut menyebutkan berbagai faktor yang menopang pendapat mereka serta beberapa kondisi spesifik yang menyebabkan 
salah satu dari keduanya lebih utama.

Para sahabat demikian kuat hasratnya membaca dan menghafal Al-Qur’an. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan tempat yang lebih tinggi kepada seorang diantara mereka dengan hafalan Qur’annya. Diriwayatkan dengan shohih dari Abuu Mas’uud Al-Badrii radhiallahu  
“Yang menjadi imam sholat adalah diantara sekelompok kaum muslimin adalah yang paling qoori’ (paling baik bacaannya atau paling banyak hafalannya) terhadap Kitaabullah.” (HR. Muslim)

Dari Jabir bin Abdullah diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga memberikan panji perang dalam jihad kepada orang yang paling banyak hafalan Qur’annya.

Dari Ibnu Umar diriwayatkan, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diceritakan bahwa beliau bersabda:
“Hasad hanya dibolehkan terhadap dua orang: orang yang diberikan hafalan Qur’an oleh Allah, lalu ia selalu membacanya di tengah malam dan di siang hari. Dan orang yang diberikan harta oleh Allah, lalu siang dan malam ia selalu menginfakkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan bahwa jumlah anak tangga disurga nanti bergantung pada jumlah ayat Al-Qur’an. Akan dikatakan kepada seorang goori’ di hari kiamat nanti, “Bacalah satu ayat Al-Qur’an lalu naiklah anak tangga.” Kalau ia hafal setengah Al-Qur’an, akan dikatakan kepadanya, “Kalau engkau hafal lebih dari itu, kami juga menambahkan pahalanya kepadamu.” (Tanbbihu ‘l-Ghoofiliin, Juz II hal, 459)

Riwayat ini sesuai dengan riwayat lain dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:
“Akan didatangkan kepada qoori’ di hari kiamat nanti, ‘Bacalah satu ayat Al-Qur’an, lalu naiklah anak tangga, bacalah ayat itu dengan tartil sebagaimana engkau membacanya selama di dunia. Derajatmu adalah pada terakhir yang engkau baca.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, beliau berkomentar, “Hadits ini Hasan Shohiih)

Pahala jugadiberikan sesuai dengan tingkat kesulitan saat membaca Al-Qur’an. Manusia pun bertingkat-tingkat kemampuan dan keterampilannya dalam embaca Al-Qur’an. Dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diriwayatkan bahwa beliau bersabda:
“Orang yang membaca AL-Qur’an dengan lancar akan dikumpulkan bersama dengan para malaikat yang baik dan mulia. Sementara orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan mengalai kesulitan dalam membacanya, akan memperoleh dua pahala.” (HR. Bukhari Muslim)

Berkaitan dengan majelis Al-Qur’an dan keutamaannya, diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:
“Setiap kali kelompok orang berkumpul disalah satu rumah Allah, lalu membaca Kitabullah dan mempelajarinya diantara mereka, pasti akan turun kepada mereka sakinah, mereka akan dinaungi oleh rahmat, didoakan oleh para malaikat, dan akan disebut-sebut oleh Allah di sisi-Nya.” (HR. Muslim dan Abu Dawud)

Orang terbaik adalah yang menyibukkan diri dengan Kitabullah, menjauhkan segala hal yang melalaikan dirinya dari akhirat. Jika sudah sampai pada standar yang diinginkan ia akan mengajarkannya kepada orang sehingga bisa berkhidmat kepada umat.

Dari Utsmaan bin Affaan radhiallahu ‘anhu diriwayatkan bahwa ia menceritakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Yang terbaik di antara kalian adalah orang yang mempelajari AL-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Muslim dan Abu Dawud)

Naafi’ bin Haarits pernah mewakilkan pemerintahan di kota Mekkah kepada ‘Abdurrahman bin Abzaa Al-Khuzaa’i, ketika ia berjumpa dengan ‘Umar bin Khoththoob di Usafaan. ‘Umar bertanya, “Kepada siapa engkau serahkan urusan para penduduk Lembah (Mekkah)?” Naafi’ menjawab, “Abzaa, “Beliau bertanya lagi,”Abzaa siapa?” Naafi’ menjawab, “Ia orang yang alim di bidang ilmu Faroidh, hafal Kitabullah,” Umar berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya dengan Al-Qur’an ini Allah mengangkat derajat sebagian orang dan merendahkan derajat sebagian yang lain.” (Siar A’laami ‘n-Nubalaa I: 365)

Diriwayatkan juga bahwa Umar bi Khaththab berkomentar, “Abzaa termasuk orang yang diangkat derajatnya oleh Allah dengan Qur’an. (Siar A’laami ‘n-Nubalaa I: 365)

Sumber: Mu’awwiqotu Tilaawati wa Hifzhu Kitaabillaahi, Hayaa Ar-Rosyiid

0 komentar:

Posting Komentar